Kasus Bisnis yang tidak beretika padafungsi Produksi : Kasus Depot Air Minum Isi Ulang

Dalam salah satu cara bagaimana beretika bisnis yang baik adalah jujur terhadap konsumen mengenai berbagai aspek yang melekat dalam bisnis kita. Hal ini merupakan hal dasar yang harus dipenuhi dalam melakukan kegiatan bisnis, namun terkadang saat ini kita banyak mendapati kasus-kasus yang bertolak belakang dengan prinsip ini, berikut salah satu kasusnya.

Air minum merupakan salah satu unsur kebutuhan pokok manusia. Ketika konsumen tertentu karena kebutuhannya membeli air minum dengan memilih merek tertentu yang terkenal, selain karena alasan kualitas dan kesehatan. Kebutuhan ini kemudian juga bisa menjadi kebutuhan prestise. Namun demikian untuk sebagian konsumen lainnya membeli air minum dengan merek terkenal dirasakan cukup mahal. Mereka akan mencari air minum sejenis dengan harga ekonomis atau yang terjangkau oleh kemampuannya.

Peluang inilah yang dilihat dan dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis dengan menghasilkan produk air minum yang jauh lebih murah harganya. Sehingga banyak bermunculan depot-depot air minum, yang selanjutnya lebih dikenal dengan depot air minum isi ulang. Bahkan mereka berusaha mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dan diatur oleh beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait dalam hal keamanan air minum untuk dikonsumsi.  Tindakan tersebut tentunya dapat merugikan konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat berdampak bagi kesehatan.

Dalam Kasus Depot Air minum isi ulang, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, YLKI menyatakan, sebagian depo air minum isi ulang di wilayah Jakarta tidak memenuhi standar pengisian ulang, sehingga berpengaruh terhadap kualitas air yang dijual. Selain meneliti kandungan airnya, tim peneliti YLKI juga langsung melakukan survei terhadap sarana dan prasarana depo-depo tersebut.”Yang kita temukan, dari 20 sampel, ada enam yang mengandung total bakteri, serta ada satu yang mengandung bakteri E. Coli (Escherichia coli),” kata Ida Marlinda, peneliti YLKI, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Jumat (15/02) siang. Hasil survei YLKI menunjukkan pula, pemilik depo tidak merawat galon-galon airnya secara steril. Menurut data YLKI (data 2012-2013) ada sekitar 3.500 depo air minum isi ulang yang tersebar di berbagai wilayah di Jakarta, namun diperkirakan banyak yang tidak memiliki surat layak kesehatan dari kantor dinas kesehatan setempat.

Analisis : Menurut saya, Hal ini merupakan salah satu bisnis yang tidak beretika, karena disini pengusaha depot air minum isi ulang hanya memikirkan dari faktor keuntungan saja, tetapi dari faktor kehigienisannya/kualitas air tidak terlalu diutamakan. Hal ini perlu pengawasan dari pemerintah  maupun dari kita sendiri sebagai konsumen. Kalau perlu diberikan sangsi kepada pengusaha-pengusaha depot air minum yang airnya mengandung bakteri-bakteri seperti yang ditemukan yaitu bakteri e-coli, sangsinya seperti peringatan terlebih dahulu ataupun langsung dengan penutupan usaha. Karena sangat jelas bisnis ini berdampak negatif bagi konsumen.

Sumber :

http://www.bbc.co.uk/indonesia

http://www.ylki.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s